Walau hari ahad ini gak jadi mengadakan acara public speaking dan talkshow seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Ternyata Alloh memberikan acara lain dan hiburan bagi saya. Memang sangat sedih, saat sesuatu yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Tapi tak apalah, Dia Maha Tahu segala yang terbaik bagiku.
Pagi itu, tepat pukul 06.00 saya pergi untuk olah raga bareng MEC, dijalan, melewati kampus UPI teman-teman saling membicarakan kesibukannya masing-masing. Saya hanya diam jadi pendengar setia, karena memang gak nyambung, yang meraka bicarakan bukan soal MEC atau rencana olah raga pagi itu. Setelah lama menyimak, akhirnya saya ikut bertanya dan meminta informasi “bagaimana kalau ingin ikut mengajar disana?” Tanyaku iseng menyesesuaikan obrolan mereka. Ya..seputar tes microteaching lah, interview lah, de el el. Akhirnya teman saya meminta data saya dan mengsms temannya sebagai HRD di tempat tersebut.
Olah raga siap dimulai. Memilih tempat yang tepat bukan perkara mudah di Pondok Hijau (PH), selain banyak orang, juga becek setelah kemarin diguyur hujan lebat. Ya, walau akhirnya kami menemukan tempat yang berumput dan agak panas. Pemanasan dimulai, dan mulai olahraga inti yang sudah kami rencanakan, boy boyan.... seru... tertawa lepas diantara semak dan hamparan rumput hijau di PH. Benar-benar sesuatu yang saya tunggu-tunggu selama ini. keringat membasahi wajah dan tubuh saya. Perut serasa dikocok, setiap langkah dan lari saya iringi dengan tertawa. Indah...bebas...ringan...lepasss…saya sangat menikmati...
Boy boyan, permainan yang sudah beberapa tahun saya tinggalkan, begitu ceria saya saat itu. Memutar kembali ingatan pada masa kecil saya yang memang dihabiskan disawah, ladang, lapangan buatan, dihalaman depan dan belakang rumah dan disekitar pojok rumah. Banyak sekali permainan yang sering saya lakukan dulu, bebentengan, ucing-ucingan, ucing sumput, boy-boyan, kasti, hong-hoongan, ucing bacak, maen BP (putri-putrian), imahan batok, sasaungan, maen karet, de el el. Pokoknya banyak banget.... Mungkin, saat ini sudah ditinggalkan anak-anak seusia saya saat itu.
Ya... saatnya saya dan teman teman harus pulang, rencana makan pun kami susun, siap menyantap bubur ayam setelah ini. semuanya berjalan berpasangan atau berdua-dua,.. teman saya mendekat dan berbisik, “teh ngajar di … sebut saja lembaga A gak?” Belum kata saya, mau sih tapi ntar mungkin, emang kanap teh? Ini teh, ternyata ditempat yang tadi itu hanya menerima mahasiswa ITB dan UPI aja, ujarnya. Memang terdengar seperti ada yang menusuk dihati, saya langsung terpikir, bagaimana kualitas diri dan tempat belajar saya saat ini. Sakit...sebel dengan universitas saya, mengapa seolah tidak punya bargaining. Wah, konyol jika saya menyerah. saya harus belajar, belajar, dan belajar. Semuanya tergantung saya. Aku pasti bisa. Dimanapun kamu belajar, itu bukan hal yang muthlak dapat membentuk kamu sesuai apa yang kamu inginkan.... NEVER GIVE UP!!!!!! Itulah mantra pembakar semangat saya kala itu.
Pernyataan teman saya membuat saya semakin semangat, saya harus terus belajar, banyak bergaul, banyak bertanya, banyak membaca. Saya semakin percaya diri, bahwa saya bisa melakukan yang lebih. Saya pasti bisaaaa. Ya, sebelum pulang tak lengkap bila gak ada dokumentasi perjalanan, untungnya, teman yang satu membawa kamera digital... wah, seru jepret sana jepret sini, ganti pose, ganti spot. Saya lupa dengan kejadian yang sudah terjadi, seru, senang, senyum, dan menikmati semua rangkaian pemotretan bak model aja.
Belum kenyang sebenarnya dipotret, tapi perut udah lapar, ya... kamipun meninggalkan spot pemotretan, dan menuju sebuah kantin. Wah, lengkap menunya. Kantin yang baru saya kunjungi didaerah Cilimus. Itu juga rekomendasi teman, cukup untuk mengganjal perut satu porsi bubur ayam ditambah sambal cabai yang yahuuut, pedasss pisannnn. Tapi enak lah dan Cuma tiga ribu lima ratus saja. Sudah kenyang warkop itu kami tinggalkan, karena perjalanan masih lumayan, melewati gymnasium dan sudut-sudut gedung Upi dan tibalah di gang darmawinata. Sebagian temanku, ada yang langsung pulang dan ada yang pergi ke pasar. Saya memilih untuk segera pulang. Pengen segera rasanya menumpahkan semua isi hati dan kepala kepada sahabat setiaku (laptop).
Gak butuh waktu lama untuk cepet datang ke kosan warna oren, sebuah rumah yang hampir empat bulan saya dan teman tempatin. Wah, ingin rasanya segera membuka laptop, dan jari-jariku mulai bergerak memijat satu persatu huruf yang ada dalam keyboard. Tapi sayang, dirumah tidak ada orang, memang sebelumnya ku sempatkan menyapa anak pemilik rumah yang tinggal dilantai bawah, mereka akan pergi entah kemana. Kudorong pintu, tapi masih tidak terbuka, saya teriak kencang, “teteh....teteh... ada orang gak? Gak bawa kunci nih," berusaha untuk melihat kamar saya dari jendela tidak ada orang disana. Juga di ruang tamu saat ku lihat dari jendela tetap tak tanda-tanda ada orang. Jurus ampuh, saya mengirim sms semua penghuni, lalu ada balasan, saya lagi di Dago, dan yang satu saya lagi di UPI pulang setelah duhur dan tidak bawa kunci. Bingung, kesal, gondok, greget, kenapa saya tidak terpikir untuk membawa kunci... gak ada manfaatnya memang berandai-andai, jika semuanya sudah terjadi.
Pintu dapur sama dikunci, dan kuncinya tergantung dipaku yang menancap di dinding. Wah gimana nih, udah badan bau keringat, ingin segera masuk pokonya. untung jendela dapur tidak terkunci juga. Sreeet, tiba-tiba mata memandang sapu, sapu? Gimana ya, saya harus bisa ambil kunci dapur dengan sapu. Hanya Alloh yang dapat menolong saya. Saya sangat yakin. Gak tahu bagaimana nasib saya, seandainya kunci itu tidak mau nyangkut diatas sapu, atau misalnya kuncinya jatuh, entahla, paling saya gigit jari, kesal, gondok, greget... lagi mungkin.
Syukur Al hamdulillah, si kunci jatuh tepat diatas sapu, perlahan saya tarik sapu, dengan sangat hati-hati, dan akhirnya tangan kiri saya langsung meraih kunci tersebut. Serius, kunci itu bak sekeping emas bagi saya saat itu, ia sangat berharga. Wah Alloh is The Greatest, I like Him, i believe in Him so much. Dan pasti bila ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Rubah cara berpikir kita, be positive thinking! U will find the best way. Dan semoga meskipun saya bukan lulusan ITB, UPI, atau lainnya, dapat bersaing dan bermanfaat di masyarakat. Saya yakin kesuksesan sangat bergantung pada bagaimana saya… bukan lembaga.***
*Semoga menjadi sekeping inspirasi dan motivasi. Terimakasih buat semua teman-teman yang sudah menjadi jalan pencerah. Mohon doakan, semoga penulis bisa membuktikan. insya Allah, Alloh akan Menunjukkan jalanNYA. Amin...
Orange Apartement, 24 Oktober 2010
Pukul 10.12 pm
Pagi itu, tepat pukul 06.00 saya pergi untuk olah raga bareng MEC, dijalan, melewati kampus UPI teman-teman saling membicarakan kesibukannya masing-masing. Saya hanya diam jadi pendengar setia, karena memang gak nyambung, yang meraka bicarakan bukan soal MEC atau rencana olah raga pagi itu. Setelah lama menyimak, akhirnya saya ikut bertanya dan meminta informasi “bagaimana kalau ingin ikut mengajar disana?” Tanyaku iseng menyesesuaikan obrolan mereka. Ya..seputar tes microteaching lah, interview lah, de el el. Akhirnya teman saya meminta data saya dan mengsms temannya sebagai HRD di tempat tersebut.
Olah raga siap dimulai. Memilih tempat yang tepat bukan perkara mudah di Pondok Hijau (PH), selain banyak orang, juga becek setelah kemarin diguyur hujan lebat. Ya, walau akhirnya kami menemukan tempat yang berumput dan agak panas. Pemanasan dimulai, dan mulai olahraga inti yang sudah kami rencanakan, boy boyan.... seru... tertawa lepas diantara semak dan hamparan rumput hijau di PH. Benar-benar sesuatu yang saya tunggu-tunggu selama ini. keringat membasahi wajah dan tubuh saya. Perut serasa dikocok, setiap langkah dan lari saya iringi dengan tertawa. Indah...bebas...ringan...lepasss…saya sangat menikmati...
Boy boyan, permainan yang sudah beberapa tahun saya tinggalkan, begitu ceria saya saat itu. Memutar kembali ingatan pada masa kecil saya yang memang dihabiskan disawah, ladang, lapangan buatan, dihalaman depan dan belakang rumah dan disekitar pojok rumah. Banyak sekali permainan yang sering saya lakukan dulu, bebentengan, ucing-ucingan, ucing sumput, boy-boyan, kasti, hong-hoongan, ucing bacak, maen BP (putri-putrian), imahan batok, sasaungan, maen karet, de el el. Pokoknya banyak banget.... Mungkin, saat ini sudah ditinggalkan anak-anak seusia saya saat itu.
Ya... saatnya saya dan teman teman harus pulang, rencana makan pun kami susun, siap menyantap bubur ayam setelah ini. semuanya berjalan berpasangan atau berdua-dua,.. teman saya mendekat dan berbisik, “teh ngajar di … sebut saja lembaga A gak?” Belum kata saya, mau sih tapi ntar mungkin, emang kanap teh? Ini teh, ternyata ditempat yang tadi itu hanya menerima mahasiswa ITB dan UPI aja, ujarnya. Memang terdengar seperti ada yang menusuk dihati, saya langsung terpikir, bagaimana kualitas diri dan tempat belajar saya saat ini. Sakit...sebel dengan universitas saya, mengapa seolah tidak punya bargaining. Wah, konyol jika saya menyerah. saya harus belajar, belajar, dan belajar. Semuanya tergantung saya. Aku pasti bisa. Dimanapun kamu belajar, itu bukan hal yang muthlak dapat membentuk kamu sesuai apa yang kamu inginkan.... NEVER GIVE UP!!!!!! Itulah mantra pembakar semangat saya kala itu.
Pernyataan teman saya membuat saya semakin semangat, saya harus terus belajar, banyak bergaul, banyak bertanya, banyak membaca. Saya semakin percaya diri, bahwa saya bisa melakukan yang lebih. Saya pasti bisaaaa. Ya, sebelum pulang tak lengkap bila gak ada dokumentasi perjalanan, untungnya, teman yang satu membawa kamera digital... wah, seru jepret sana jepret sini, ganti pose, ganti spot. Saya lupa dengan kejadian yang sudah terjadi, seru, senang, senyum, dan menikmati semua rangkaian pemotretan bak model aja.
Belum kenyang sebenarnya dipotret, tapi perut udah lapar, ya... kamipun meninggalkan spot pemotretan, dan menuju sebuah kantin. Wah, lengkap menunya. Kantin yang baru saya kunjungi didaerah Cilimus. Itu juga rekomendasi teman, cukup untuk mengganjal perut satu porsi bubur ayam ditambah sambal cabai yang yahuuut, pedasss pisannnn. Tapi enak lah dan Cuma tiga ribu lima ratus saja. Sudah kenyang warkop itu kami tinggalkan, karena perjalanan masih lumayan, melewati gymnasium dan sudut-sudut gedung Upi dan tibalah di gang darmawinata. Sebagian temanku, ada yang langsung pulang dan ada yang pergi ke pasar. Saya memilih untuk segera pulang. Pengen segera rasanya menumpahkan semua isi hati dan kepala kepada sahabat setiaku (laptop).
Gak butuh waktu lama untuk cepet datang ke kosan warna oren, sebuah rumah yang hampir empat bulan saya dan teman tempatin. Wah, ingin rasanya segera membuka laptop, dan jari-jariku mulai bergerak memijat satu persatu huruf yang ada dalam keyboard. Tapi sayang, dirumah tidak ada orang, memang sebelumnya ku sempatkan menyapa anak pemilik rumah yang tinggal dilantai bawah, mereka akan pergi entah kemana. Kudorong pintu, tapi masih tidak terbuka, saya teriak kencang, “teteh....teteh... ada orang gak? Gak bawa kunci nih," berusaha untuk melihat kamar saya dari jendela tidak ada orang disana. Juga di ruang tamu saat ku lihat dari jendela tetap tak tanda-tanda ada orang. Jurus ampuh, saya mengirim sms semua penghuni, lalu ada balasan, saya lagi di Dago, dan yang satu saya lagi di UPI pulang setelah duhur dan tidak bawa kunci. Bingung, kesal, gondok, greget, kenapa saya tidak terpikir untuk membawa kunci... gak ada manfaatnya memang berandai-andai, jika semuanya sudah terjadi.
Pintu dapur sama dikunci, dan kuncinya tergantung dipaku yang menancap di dinding. Wah gimana nih, udah badan bau keringat, ingin segera masuk pokonya. untung jendela dapur tidak terkunci juga. Sreeet, tiba-tiba mata memandang sapu, sapu? Gimana ya, saya harus bisa ambil kunci dapur dengan sapu. Hanya Alloh yang dapat menolong saya. Saya sangat yakin. Gak tahu bagaimana nasib saya, seandainya kunci itu tidak mau nyangkut diatas sapu, atau misalnya kuncinya jatuh, entahla, paling saya gigit jari, kesal, gondok, greget... lagi mungkin.
Syukur Al hamdulillah, si kunci jatuh tepat diatas sapu, perlahan saya tarik sapu, dengan sangat hati-hati, dan akhirnya tangan kiri saya langsung meraih kunci tersebut. Serius, kunci itu bak sekeping emas bagi saya saat itu, ia sangat berharga. Wah Alloh is The Greatest, I like Him, i believe in Him so much. Dan pasti bila ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Rubah cara berpikir kita, be positive thinking! U will find the best way. Dan semoga meskipun saya bukan lulusan ITB, UPI, atau lainnya, dapat bersaing dan bermanfaat di masyarakat. Saya yakin kesuksesan sangat bergantung pada bagaimana saya… bukan lembaga.***
*Semoga menjadi sekeping inspirasi dan motivasi. Terimakasih buat semua teman-teman yang sudah menjadi jalan pencerah. Mohon doakan, semoga penulis bisa membuktikan. insya Allah, Alloh akan Menunjukkan jalanNYA. Amin...
Orange Apartement, 24 Oktober 2010
Pukul 10.12 pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar