Jumat, 28 Oktober 2011

Akhwat Pasti Bisa Seperti Beliau

Begitulah sepertinya sosok orang yang sudah zuhud terhadap dunia ini. Tak ada barang mewah yang menempel ditubuhnya. Padahal saat aku tahu cerita seorang ibu sederhana ini. Kepergiannya ke bandung karena akan menemani istri keponakannya yang sedang ditinggal suaminya ke Amerika. Saat istri keponakannya mengetahui sang ibu yang biasa ia panggil “mbah”, naik kereta ekonomi dari Kediri sampai Bandung. Ia sangat terkejut. “mbah kok naik kereta ekonomi”, tanyanya. “gak apa-apa kok, Alhamdulillah nyaman dan bisa duduk”. Jawabnya. Memang sangat terlihat biasa saja, meski biasa naik kereta bisnis, eksekutif, bahkan sesekali naik pesawat. Tidak ada wajah mengeluh, capek, atau kesakitan tubuhnya yang sudah menginjak usia 70 an itu. Beliau terlihat begitu menikmati. Saat saya mengeluh ingin buang air kecil, ku lihat beliau amat tenang. Subhanalloh

Sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih berjam-jam lagi, aku coba bertanya-tanya segala hal kepada ibu yang berkerudung panjang dengan warna senada dengan gamis coklat tua yang dikenakannya saat itu.
Ibu kok pergi jauh sendirian?
Udah biasa mba, saya udah sering ke Jakarta ke tempat anak sendiri, dan ke NTB ke rumah besan juga sendiri. Mendengar itu hati saya semakin takjub dan penasaran…

Ibu tinggal di pare sendiri, tapi tiga hari dalam seminggu ibu selalu ke jombang untuk ngajarin islam ke seorang ibu pengusaha yang ingin belajar dari dasar.

Sekarang anak ibu kerja di valuta asing, Alhamdulillah dia bisa kuliah sampai strata dua. Sejak usia tiga tahun dia sudah ditinggal ayahnya. Tapi, semangatnya untuk belajar gak pernah pudar. Sejak ayah meninggalkan ibu, ya…ibu hidup sendiri. Menikah lagi, tidak menjadi prioritas ibu sejak saat itu… saya lebih memilih single parent.

Karena sendiri, saya angkat seorang anak, dan Alhamdulillah sekarang sudah bekerja di kedutaan mesir.
Semakin berdecak kagum, perlahan saya bertanya.
Ibu di pare nya dimana?
Di gang Tulungrejo, silahkan berkunjung ya mba, tapi ya rumahnya seadanya.

Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya didapat rahasianya, bagaimana beliau mendidik anak-anaknya, beliau tak lepas berpuasa daud, shalat malam, tilawah khatam dalam 5 hari, atau kalau sesekali memahami artinya agak lama diselesaikannya, tidak pernah memarahi atau kasar kepada anak, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun.

Benar, jika dunia sudah tidak dihati, justru dunia itu yang akan mengejar. Padahal jika beliau duduk manis menikmati masa tuanya pun bisa. Tanpa harus bolak-balik berdakwah, tapi itu bukan kebahagiaan baginya. Padahal setiap satu bulan keponakannya dan anaknya mengiriminya uang lebih dari cukup. Keponakannya yang seorang dosen ITB dan anaknya seorang pegawai penting di valuta asing. Sungguh…pelajaran yang sangat berharga bagi para ibu dan calon ibu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar