Jumat, 28 Oktober 2011

Pantaskah Kita Mengeluh

Kehadiran para pengamen didalam kendaraan umum khusunya bis, merupakan hal yang biasa. Para pengamen terus bergantian, terkadang ada yang mendapat banyak receh, namun ada juga yang kadang lagi apes. Setelah bebrapa lagu mereka lantunkan. Namun tak sepeserpun recehan berlabuh pada kantong yang mereka sodorkan. Berbeda dengan dua orang pengamen yang sempat saya temui. Ketika sedang di bus damri, awalnya saya melihat dua orang tersebut dengan pandangan yang biasa.

Ya, saya tahu lelaki itu buta, tapi belum tahu dengan perempuan yang naik lebih dulu dan menuntunnya. Saya melihat mereka dari balik kaca bis, dalam benak saya “mereka mau mengemis”. Tercengang batin saya saat melihat perempuan yang semula menjadi penuntun jalan bagi sang lelaki tadi. Perempuan itu ternyata buta juga, sama seperti lelaki yang ada dibelakangnya. Dan ternyata mereka bukan akan mengemis seperti yang saya bayangkan. Lelaki buta itu mulai membuka konser kecilnya dengan menyapa para penumpang. Sedang perempuan tadi hanya sesekali membenarkan posisi berdirinnya agar lebih nyaman dan tidak terjatuh bila sewaktu-waktu bis damri berhenti mendadak.

 Gitar kecil yang ditangan sang lelaki yang kemungkinan adalah suaminya, mulai mengaluarkan bunyi yang merdu. Perempuan yang diduga istrinya mulai membuka mulutnya, terdengar bunyi lagu yang merdu, sebuah lagu dangdut dari Elvi Sukaesih mulai ia dendangkan, merdu, tulus, haru, penuh penghangayatan. Matanya yang tidak melihat tidak mengganggu pemandangan semua orang yang penasaran ingin menatap para artis jalanan ini. Ya,…satu lagu selasai didendangakan.
Saya sebetulnya berharap lagu kedua dia dendangkan, namun sayang, mereka mengakhiri konser yang mengharukan itu, ya…konser yang mengarukan, dua orang buta…tidak menggantungkan hidup mereka dengan hanya mengemis, tapi mereka berkarya. Sebuah kantong disodorkan sang lelaki sebagai tanda berakhirnya  konser haru itu, tak seberapa tarif yang mereka harapkan.

Tercengang, tidak hanya saya yang kagum, haru, terhadap kedua “artis” tersebut. Terbukti, hampir semua penumpang memasukan koin dan lembaran kertas kedalam kantong plastik yang disodorkan “artis” buta tersebut. Mereka pun berlalu meninggalkan jalanan, damri yang saya tumpangi masih berdiam, karena lampu merah masih menyala, mata saya masih mengikuti perjalanan dua orang yang saling berpegangan tangan dibantu dengan sebatang tongkat alumunium di tangan kanan sang lelaki. Mereka hendak berjalan menuju tepi, tepatnya trotoar dan depan pertokoan yang berjajar tepat dijalan otista.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Allah swt Maha Adil, sempurna segala ciptaanNya, tiada yang sia-sia segala yang Dia Ciptakan. Dua orang buta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah swt cukupi rezekinya, kebahagiaannya, dll. Thanks to ALLOH for all His Blessing.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar