Jumat, 28 Oktober 2011

Lulus Ujian


Diluar masih terdengar suara air jatuh di atas genting, dedaunan, dan sesekali angin menyapa lembut kulit kami. Hanya di malam hari kau bisa bercerita lagi tentangmu. Kali ini makan malam kami di rung TV, kau memulai ceritamu, “meskipun di MTs dulu aku harus sambil berjualan, tapi semua itu tidak membuat nilai-nilaiku buruk. Setiap kenaikan kelas aku dinyatakan sebagai bintang kelas. Sempat terpikir untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena dorongan dan semangat guruku, beliau mengantarku kepada seorang pemilik kobong di daerah malingping. Beliau menyerahkan aku, kepada seorang kiayi yang sama sekali asing bagiku. Aku dititipkan di sana. Aku pikir, aku hanya akan dipesantrenkan. Ternyata aku bisa sekolah ke Madrasah Aliyah (MA) dan tinggal di kobong milik Pak kiyai yang baru hanya ku ketahui namanya itu.

Tentu, semuanya tidak gratis. Untuk tinggal di kobong ada bayaran yang harus aku lunasi. Bukan dengan rupiah, karena benda yang satu itu hanya sedikit aku miliki. Untuk memulai berdagang kembali, aku harus mencari pemilik toko kelontongan yang baru. Karena pemilik toko kelontongan yang dulu berada di Cisiih. Jarak antara Cisiih dan Malingping cukup jauh. Jika aku mengambil barang dari sana cukup berat dan sulit. Namun, ternyata semuanya harus berubah. Tak pernah terbayang sebelumnya, Pak kiayi meminta aku agar mengurus sawah miliknya, kemudian hasilnya dibagi dua. Begitu pintanya. Dengan semangat, berbekal pengalaman sewaktu di SD dulu, tidak susah bagiku untuk sekedar menggarap beberapa petak sawah. Setiap pagi sebelum pergi ke MA, aku selalu pergi ke sawah. Terkadang harus mencangkul, tapi jika sawah sudah ditanami padi, aku hanya mengontrol airnya saja. Meskipun sudah diberi sawah untuk digarap. Semua itu tidak mencukupi untuk membiayaiku, adikku di MTs, dan ibuku di rumah. Aku ingin warung kecil ibu tetap berjalan. 

Awal-awal menggarap sawah Pak kiayi, aku sering terlambat masuk kelas. Saat sawah harus segera di tanami padi kembali. Aku harus mencangkul setiap pagi. Setiap selesai sholat subuh, aku pergi ke sawah lengkap dengan cangkul, parang, dan bekal seadanya. Bersyukur, dengan  kesepakatan yang baik, guruku memberikan hukuman yang terbaik untukku. Setiap terlambat, guru menyuruhku agar menghafalkan beberapa kosakata bahasa inggris. Positifnya, semakin sering aku terlambat, maka semakin banyak pula kosa kata yang aku hafal. Memang, guruku memberi hukuman karena ia ingin aku maju. Beliau tahu, alasan keterlambatanku, yang bukan karena nyenyak tertidur di atas kasur atau karena kemalasan yang dimanjakan. 

Setelah keluar sekolah, aku pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur. Selain untuk berbelanja, juga mencari toko yang memungkinkan  untuk kerjasama lagi. Pikirku. Ya…aku harus berjualan lagi seperti dulu. Di pasar aku mencari-cari toko kelontongan. Saat melihat toko kelontongan aku langsung masuk dan mencari pemiliknya. Tidak ada modal yang aku miliki, sama seperti dulu. Aku hanya akan bermodal dengan kejujuran. Tapi, untuk langsung berdiplomasi masalah konsinyasi nampaknya cukup sulit kalau hanya dengan modal kejujuran. Dia belum mengenalku, kalau begitu, akan ku tawarkan saja dulu diriku untuk jadi tukang pikul atau pelayan di toko itu. Benar, ide yang bagus, agar dia mengenalku. Aku akan menjadi kuli pikul di tokonya atau sekedar menjadi pelayan. Tak perlu menunggu waktu lama, aku langsung diterima jadi tukang pikul dan pelayan di sana. Kini ada pekerjaan baru bagiku setiap pulang dari sekolah hingga waktu magrib tiba. Hari itu juga, aku langsung bekerja, memikul karung-karung yang berisi gula pasir, terigu, dan sagu dari truk ke toko. Pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan otot. Beruntung, badanku tumbuh dengan sempurna. Meski tidak terlalu besar, tapi badanku kekar. 

Seperti biasa kegiatanku di kobong sama seperti sewaktu di MTs dulu. Aku meneruskan mengaji al Qur’an dan kitab kuning. Tapi di sini ada pelajaran tambahan, aku diajarkan bahasa arab. Karena ternyata kiayiku lulusan sebuah universitas di Madinah. Meski siangnya harus sekolah dan bekerja, semuanya tidak memudarkan semangatku. Setiap hari libur, aku sempatkan pulang menjenguk ibu dan  kedua adikku. Alhamdulillah, tabungan harianku dari upah pikul bisa untuk belanja kelontongan untuk mengisi warung kecilku di desa. Adikku yang baru masuk MTs mengulang perjuangan sepertiku. Jika aku harus berjualan agar mendapatkan uang. Berbeda dengan adikku, dia menjadi pembantu rumah tangga. Sebelum sekolah, ia sempatkan untuk bisa membantu cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah di tetangga kobongnya. Sepulang dari sekolah dia membantu memasak. Tak heran, untuk biaya hidup ia cukup dari hasil kerjanya sendiri. Terkadang pemilik rumah memberikan makanan untuknya. Alhamdulillah, tidak membutuhkan biaya yang banyak. Bahkan, untuk biaya SPP pun ia bayar sendiri dari tabungannya hasil kuli jadi pembantu rumah tangga. 

Musim panen telah tiba, semangat dan ceria aku menyambutnya. Padi-padi yang telah ditanam sekitar empat bulan lalu, yang dibantu teman-temanku di kobong. Kini sudah berwarna kuning dan berisi, hingga batang padi-padi itu merunduk kebawah, tak kuat menahan beban biji yang berat. Aku merasa sangat bahagia. Pulang minggu depan nanti aku akan membawakan beras untuk keluargaku. Benar saja, hasil panen pertamaku lebih banyak dari biasanya. Cerita Pak Kiayi padaku. Bahkan kali ini dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan senyum ramah dan suara bangganya. Pak Kiayi merasa sangat senang dengan usahaku. Hasil panen sebanyak dua kwintal setengah membayar semua lelah dan payahku. Dengan segala kebaikannya, Pak Kiayi hanya mengambil satu kwintal saja, yang satu kwintal setengah lagi untukku katanya. Setengah kwintal pemberian Pak Kiayi, aku berikan kepada teman-temanku di kobong. Usai panen semua senang, sungguh rezeki itu sudah Allah tetapkan. Hanya seberapa usaha kita untuk menjemputnya.” Paparmu panjang lebar.

Suara jangrik di luar terdengar bak nyanyian alam yang diperdengarkan Sang Pencipta. Sunyi, senyap, hitam-legam, malam itu menyelimuti kampung kecil–Cimandiri. Tak ada lagi air yang jatuh. Begitu juga angin, ia tak menyapa kulit kami yang sedang khusyuk tenggelam dalam nostalgia ayah tercinta. Acara TV sudah berganti, entah yang keberapa kali. Keberadaan TV hanya tambahan teman saja, karena kami sebenarnya tidak sedang menontonnya, suaranya pun aku kecilkan, karena aku lebih asyik mendengar suara ayah. Suara yang masih bertenaga, meski sisa perjuangan. Suara yang memberikan ruh bagiku kala didera malas dan manja. Suara yang paling merdu bagi telinga yang masih terbuka.***

Oh, ayah
Ku tahu kau lelah
Tapi kau tak mau pasrah
Kau ikhlas pada takdir
Yang hadir menyingkap tabir
Bagi yang mau berpikir

Bandung-Oren House, May 2011
17.45 WIB


Diam-Diam ku Mengagumimu

Mengingat wajahmu, sebuah cara bagiku untuk mendapatkan tenaga baru, semangat baru, inspirasi baru, dan motivasi baru. Bagaimana tidak, hidungmu yang mancung, jidatmu yang lebar, bibirmu yang tipis, mata yang sedikit sipit bukti lelahmu, membuat mataku tak bosan memandagimu. Kau satu-satunya orang yang telah merubahku lewat cerita-ceritamu. Ya…kau selalu menceritakan masa lalumu. Kau bilang, “aku adalah seorang anak desa, yang terlahir di sebuah desa kecil, dengan kehidupan yang serba terbatas. Ayahku yang hanya seorang buruh tani tak mampu atau bahkan hanya sekedar untuk membeli makanan yang cukup. Ya, cukup untuk makan delapan orang di rumah mungi kami. Jangankan untuk membeli makanan enak. Yang mencukupi dan mengisi perutku hingga benar-benar terisi saja belum bisa. Sehingga kami punya cara unik, untuk memperbanyak porsi nasi yang ada. Kami sering mencampur nasi dengan pisang. Pisang mentah yang hanya kami buang kulit terluarnya saja, tipis saja, agar kulit yang putihnya bisa termakan juga.” 

Kau selalu bercerita kepadaku tentang semua hal, terutama semua hal tentangmu.Katamu, “sebagai anak lelaki kedua dikeluarga, aku selalu berpikir bagaimana bisa merubah status sosial keluarga. Dari yang kekurangan menjadi berkecukupan. Dari yang tidak berpendidikan menjadi berpendidikan. Dan dari yang hanya pelayan menjadi tuan. Satu-satunya cara, ya dengan bersekolah. Hanya itu syarat yang aku tahu, agar nasib aku tidak seperti ayah dan kakak-kakak yang hanya menjadi buruh tani di ladang orang. Begitu pun dengan adik-adikku, mereka harus bisa maju dan mendapatkan pendidikan yang layak. Emak sangat sabar, semangat, dan sederhana. Setiap pagi sebelum adik-adikku pergi ke sekolah, beliau selalu membuat makanan. Tapi akung…, makanan itu bukan untuk dimakan oleh kami sekeluarga, ya…gorengan yang Emak buat itu untuk dijual oleh kedua adikku yang sedang duduk di Sekolah Dasar (SD). Hanya sedikit saja yang boleh dimakan, agar Emak tidak rugi.
Kedua adik perempuanku sangat semangat untuk berjualan gorengan buatan Emak. Tidak ada rasa malu atau gengsi untuk berjualan, ya…mereka berpikiran yang sama denganku. Bagaimana bisa meneruskan pendidikan setinggi-tingginya. Kami bertiga adalah sebuah tim yang kompak di keluarga, tim penyemangat, tim sukses, dan tim perubahan. Saatnya waktu kelulusan tiba.  Alhamdulillah, aku benar-benar lulus dari SD. Kebahagiaan yang bercampur bingung mulai menyerangku. Meneruskan sekolah, mungkinkah??? Aku bingung!!! Dengan apa aku harus membiayai sekolahku nanti? Jangankan untuk biaya meneruskan sekolah, untuk makan sehari-hari saja, masih sangat kurang. Tapi…

Aku tidak mau menyerah, bukan aku kalau menyerah. Ketiadaan biaya, jarak yang jauh, tidak boleh menghalangiku untuk meraih masa depan yang lebih baik. Hanya dengan modal nekad, aku akan meneruskan sekolahku ke sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang paling dekat dengan desaku. MTs yang paling dekat dengan desaku harus ditempuh sekitar dua jam dengan jalan kaki. Tidak ada kendaraan yang bisa aku tumpangi.  Beruntung,  jalannya bukan aspal hitam yang dapat menggerogoti sepatu, sandal, dan kakiku. Jalan menuju ke MTs itu masih tanah, berupa tanah liat dan sebagian ada yang berlumpur. Kalau musim hujan tiba, biasanya ku biarkan kaki tanpa alas, karena jalan menjadi sangat licin, dan yang berlumpur bisa menenggelamkan kakiku hingga betis. Ah…semua itu tidak bisa melemahkanku. Aku harus lebih baik dengan berpendidikan. Tekadku!!!

Meneruskan sekolah merupakan ide yang dianggap gila oleh orang disekelilingku. Banyak pertanyaan dan anggapan aneh dari tetangga dekat dan jauh. “kunaon heunteu gawe bae, hasilna jelas, bisa jeung dahar”[1]. Ya…masuk akal memang, kalau aku bekerja menjadi buruh tani, hasilnya bisa langsung dinikmati. Setidaknya, dapat mencukupi makan sehari-hari. Lagi-lagi biaya, ya dengan nekad aja rasanya gak cukup. Apa pihak sekolah mau menerimaku??? Pikirku. Ku terus berjalan menyusuri hutan, ladang dan sesekali perkampungan kecil. Sebelah kanan-kiri jalan masih berupa hutan dan ladang. Hanya sedikit perkampungan yang aku lewati, jarak perkampungan yang satu dengan lainnya kurang lebih tiga kilometer. Setibanya di sekolah, aku hanya menyerahkan diri. Dengan modal keberanian, aku bilang, aku ingin sekolah, tapi tidak ada biaya sedikitpun. Aku akan berusaha pak, mohon terima aku! Seketika, aku teringat pada pohon kayu yang ada di ladang kecilku, kayu yang ditanam ayahku puluhan tahun lalu. Sontak, langsung ku tawarkan kayu itu, sebagai ganti bayar SPP dan biaya masukku. Tanpa berpikir panjang, guru yang ku temui saat itu langsung menerima. Ya…kayu itu bisa digunakan untuk bahan pintu, kusen, dan lain-lain. Untuk membangun sekolah atau memperbaiki yang sudah ada. Tawarku padanya.

sesuai kesepakatan kemarin, ku pikul kayu-kayu yang sudah aku tebang dengan ayahku. Kayu-kayu itu, ku pikul di pundak beliaku. Usiaku yang baru seumur anak lulus SD sudah harus belajar memikul kayu yang bebannya lebih dari 30 kilogram-dengan jalan kaki sepanjang sepuluh kilometer. Kalau tidak begini, ya…tidak sekolah!!! Hanya itulah satu-satunya pilihanku untuk dapat bersekolah. Setibanya di sekolah, ku serahkan kayu-kayu itu melalui guru yang aku temui kemarin. Guru yang baru ku tahu namanya  itu, menerima kayu-kayu itu dengan senang hati. Tak hanya menerima kayu-kayu yang aku bawa. Saat beliau mengetahui jarak rumahku yang jauh, beliau menawarkan agar aku tinggal di kobong[2] miliknya. Kobong??? Tanyaku. Bagaimana dengan keluargaku. 

Tawaran guru yang baru ku kenal itu tak aku abaikan. Ku diskusikan dengan keluargaku. Hasilnya disepakati, dengan catatan setiap hari libur, aku harus pulang untuk membantu ayah kuli di ladang cengkih dan mencangkul di sawah. Aku tak keberatan dengan syarat yang diajukkan. Keesokan harinya aku pergi dengan perlengkapan seadanya untuk tinggal di kobong. Setibanya dikobong, aku disambut hangat oleh istri guruku. Ku letakkan barang-barangku dan siap menyongsong hidup baru. Makan pertamaku dEmakatkan oleh istri guruku, puji syukur ku panjatkan. Aku mendapatkan makan yang jauh lebih enak dan mengenyangkan. 

Tak terasa sudah hampir sebulan aku tinggal di kobong. Kobong itu menjadi rumah kedua bagiku. Rumah dimana aku bisa belajar lebih. Selain belajar formal di sekolah. Guruku di sekolah ya guruku di kobong juga. beliau menambahkan pengetahuan agama kepadaku. Setiap hari, setelah sholat maghrib semua murid yang tinggal di kobong, wajib mengaji Qur’an dan kitab. Ada beberapa kitab yang aku pelajari saat itu, mulai dari ta’liim mu taa’liim, fathul mu’iin, dan taqriib. Tak ada lelah dan bosan yang aku rasakan, suka cita dan semangat terus membakar segala potensiku. Beruntung tidak ada tarif khusus untuk biaya tinggal di kobong tersebut. Termasuk pelajaran tambahan yang diberikan setelah magrib itu, semuanya benar-benar tidak ada tarif yang ditetapkan. Kalau musim durian kami biasanya membawakan durian, atau gula aren untuk guru kami. Bagi yang punya banyak padi, biasanya membawakan beras untuk mereka. Ya…itulah bayaran yang bisa kami berikan. Untuk urusan perut, biasanya aku dan kawan yang lain masak sendiri. Ya meski aku lelaki, aku sering memasak untuk makan pagi, siang, dan malam. Memasaknya diatas tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Tak ada peralatan modern. Semuanya dilakukan dengan manual dan tradisional. Biasanya kami selalu bikin nasi liwet dengan lauk seadanya. Kalau tidak ada… ya, nasi diaduk garam saja sudah cukup. 

Banyak hal yang sudah aku lakukan di kobong dan di MTs sekolahku. Tak terasa, sudah masuk bulan kedua aku bersekolah. Namun kesedihanku tidak sampai hanya pada ketiadaan biaya saja. Di bulan ke dua ini, kondisinya lebih parah. Bukan karena aku tidak mampu membayar biaya sekolah. Ini masalah ayahku. Ayah yang sudah lama mengidap penyakit, karena ketiadaan biaya untuk pengobatan, terpaksa ayah harus menahan dan membiarkan penyakit bersarang ditubuhnya. Hari itu, aku mendengar kabar terburuk sepanjang hidupku.  Ayahku meninggal!!! Aku sangat terpukul sekali, sempat ada wasiat sebelum kepergiannya, “lamun keukeuh hayang terus sakola, jual bae eta sawah anu ngeun sabebecek”[3]. Wasiat yang membuat aku lesu, bagaimana mungkin aku menjual sawah itu. Sawah yang satu-satunya sumber padi bagi kami sekeluarga. Menjual sawah berarti menambah penderitaan. Jika aku melakukannya betapa egoisnya aku. Tidak!!! aku tidak ingin menjual sawah itu. Aku, akan berjuang bagaimana sekolahku terus dan sawah itu tidak dijual. 

Seminggu setelah kepergian ayah. Aku masih belum berbuat banyak. Salah satu adik perempuanku yang sudah hampir lulus dari SD begitu terlihat tegar. Dia tetap bersekolah mesti duka menyelimuti. Memang beberapa hari setelah kepergian ayah, tak ada gorengan yang bisa dijual. Emak tidak membuatnya, badannya masih lemas diselimuti duka. Aku belum kembali ke kobong dan bersekolah seperti biasa. Kebingungan menyelimuti kembali. Sekolah dengan biaya jual sawah atau berhenti menjadi kuli. Dua pilihan yang menyayat hati. Apapun yang terjadi aku harus segera kembali. Akan ku ceritakan semuanya kepada guruku, keputusan akhir ku serahkan pada beliau. Aku akan menerima apapun yang disarankan beliau, aku yakin akan ada keputusan terbaik bagiku dan masa depanku. 

Benar saja, tak terbayang sedikit pun ide untuk itu, guruku menawarkan agar aku berjualan saja. Berjualan??? Bagaimana dengan sekolahku? Ternyata aku masih bisa bersekolah, hanya setiap hari sabtu aku diberi izin khusus untuk tidak masuk sekolah dan berjualan di pasar. Aku dikenalkan kepada seorang pemilik toko kelontongan. Tidak ada modal sepeserpun yang aku miliki. Hanya dengan modal kejujuran. Dengan sistem konsinyasi atau mengambil barang terlebih dahulu. Dengan ramah pemilik toko kelontongan tersebut menerimaku. Dia memberikan barang-barang sesuai dengan kebutuhan pasar. Di hari sabtu, sesuai yang di janjikan. Untuk pertama kalinya aku berjualan di pasar. Tidak ada rasa malu atau sedih karena meninggalkan sekolah. Yang terpikir, bagaimana bisa meneruskan sekolah dan membiayai kedua adik perempuan dan Emak di rumah.
Fanastis!!! Hari pertama berjualan, barang daganganku terjual habis. Pemilik toko merasa sangat senang dengan usahaku, beliau memberikan upah dan bonus tambahan reskio dapur yang bisa  aku bawa ke rumah. Seperti biasa, setiap hari minggu, tepatnya hari libur aku harus pulang. Kali ini tanganku tidak kosong, ku jinjing plastik hitam berisi ikan asin, garam, bawang, terasi, terigu dan minyak. Dengan bangga dan wajah lebih cerah dari pada minggu-minggu sebelumnya. Dengan suka cita, Emak dan kedua adikku menyambutku. Terucap rasa syukur dari mulut mereka, tergambar rasa bangga dari wajah mereka. Keyakinan untuk dapat meneruskan pendididikan setinggi-tingginya semakin kuat. Tak hanya aku, kedua adikku ingin sepertiku. Meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. 

Begitu seterusnya kegiatanku, semakin lama berjualan, dengan untung dan ruginya. Lama-kelamaan aku bisa membawa barang lebih banyak ke rumah. Dengan inisiatif yang cerdik, Emak menaruh barang-barang itu di lemari kaca, dan kalau ada tetangga yang membutuhkan dijualnya kepada mereka. Semakin lama, warung lemari kaca itu, berubah menjadi warung kecil kelontongan. Adikku yang satu, sudah lulus. Tak terasa, aku sudah kelas tiga. Artinya hanya satu tahun lagi aku akan lulus dari MTs. lagi-lagi kemana akan ku teruskan sekolahku. Biaya yang dibutuhkan akan semakin besar, ditambah adikku yang akan masuk MTs juga, seperti jejakku.” Paparmu panjang lebar. 

Detak jarum jam terdengar syahdu mengiringi ceritamu. Kami masih duduk rapi di depan meja bundar besar di ruang makan. Selepas makan malam kami belum beranjak. Saat mata tertuju pada jarum jam menunjukkan pukul 23.49 WIB. “Apa[4], tidur dulu yuk, nanti ceritanya dilanjutkan lagi.”Pintaku pada ayah.***

Diam-diam, ku mengagumimu
Ceritamu menginspirasiku
Sejarahmu pelajaran untukku
Perjuanganmu tenaga bagiku
Kesuksesanmu hadiah termahal untukku
Oh, ayahku…
Surga layak untukmu


Bandung-Oren House, 22 Mei 2011




[1] Kenapa tidak kerja saja, hasilnya bisa dinikmati untuk makan
[2] Pondok tradisonal yang terbuat dari bilik dan kayu
[3] kalau tetap ingin sekolah, jual saja sawah yang hanya sepetak itu
[4] Panggilanku pada ayah

Renungan untuk Para Akhwat

Kenapa Harus Wanita Shalihah?

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?

Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..


Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..


Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..


Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..


Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri…

Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?


Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.


Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.


Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan.

Akhwat Pasti Bisa Seperti Beliau

Begitulah sepertinya sosok orang yang sudah zuhud terhadap dunia ini. Tak ada barang mewah yang menempel ditubuhnya. Padahal saat aku tahu cerita seorang ibu sederhana ini. Kepergiannya ke bandung karena akan menemani istri keponakannya yang sedang ditinggal suaminya ke Amerika. Saat istri keponakannya mengetahui sang ibu yang biasa ia panggil “mbah”, naik kereta ekonomi dari Kediri sampai Bandung. Ia sangat terkejut. “mbah kok naik kereta ekonomi”, tanyanya. “gak apa-apa kok, Alhamdulillah nyaman dan bisa duduk”. Jawabnya. Memang sangat terlihat biasa saja, meski biasa naik kereta bisnis, eksekutif, bahkan sesekali naik pesawat. Tidak ada wajah mengeluh, capek, atau kesakitan tubuhnya yang sudah menginjak usia 70 an itu. Beliau terlihat begitu menikmati. Saat saya mengeluh ingin buang air kecil, ku lihat beliau amat tenang. Subhanalloh

Sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih berjam-jam lagi, aku coba bertanya-tanya segala hal kepada ibu yang berkerudung panjang dengan warna senada dengan gamis coklat tua yang dikenakannya saat itu.
Ibu kok pergi jauh sendirian?
Udah biasa mba, saya udah sering ke Jakarta ke tempat anak sendiri, dan ke NTB ke rumah besan juga sendiri. Mendengar itu hati saya semakin takjub dan penasaran…

Ibu tinggal di pare sendiri, tapi tiga hari dalam seminggu ibu selalu ke jombang untuk ngajarin islam ke seorang ibu pengusaha yang ingin belajar dari dasar.

Sekarang anak ibu kerja di valuta asing, Alhamdulillah dia bisa kuliah sampai strata dua. Sejak usia tiga tahun dia sudah ditinggal ayahnya. Tapi, semangatnya untuk belajar gak pernah pudar. Sejak ayah meninggalkan ibu, ya…ibu hidup sendiri. Menikah lagi, tidak menjadi prioritas ibu sejak saat itu… saya lebih memilih single parent.

Karena sendiri, saya angkat seorang anak, dan Alhamdulillah sekarang sudah bekerja di kedutaan mesir.
Semakin berdecak kagum, perlahan saya bertanya.
Ibu di pare nya dimana?
Di gang Tulungrejo, silahkan berkunjung ya mba, tapi ya rumahnya seadanya.

Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya didapat rahasianya, bagaimana beliau mendidik anak-anaknya, beliau tak lepas berpuasa daud, shalat malam, tilawah khatam dalam 5 hari, atau kalau sesekali memahami artinya agak lama diselesaikannya, tidak pernah memarahi atau kasar kepada anak, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun.

Benar, jika dunia sudah tidak dihati, justru dunia itu yang akan mengejar. Padahal jika beliau duduk manis menikmati masa tuanya pun bisa. Tanpa harus bolak-balik berdakwah, tapi itu bukan kebahagiaan baginya. Padahal setiap satu bulan keponakannya dan anaknya mengiriminya uang lebih dari cukup. Keponakannya yang seorang dosen ITB dan anaknya seorang pegawai penting di valuta asing. Sungguh…pelajaran yang sangat berharga bagi para ibu dan calon ibu.***

Pantaskah Kita Mengeluh

Kehadiran para pengamen didalam kendaraan umum khusunya bis, merupakan hal yang biasa. Para pengamen terus bergantian, terkadang ada yang mendapat banyak receh, namun ada juga yang kadang lagi apes. Setelah bebrapa lagu mereka lantunkan. Namun tak sepeserpun recehan berlabuh pada kantong yang mereka sodorkan. Berbeda dengan dua orang pengamen yang sempat saya temui. Ketika sedang di bus damri, awalnya saya melihat dua orang tersebut dengan pandangan yang biasa.

Ya, saya tahu lelaki itu buta, tapi belum tahu dengan perempuan yang naik lebih dulu dan menuntunnya. Saya melihat mereka dari balik kaca bis, dalam benak saya “mereka mau mengemis”. Tercengang batin saya saat melihat perempuan yang semula menjadi penuntun jalan bagi sang lelaki tadi. Perempuan itu ternyata buta juga, sama seperti lelaki yang ada dibelakangnya. Dan ternyata mereka bukan akan mengemis seperti yang saya bayangkan. Lelaki buta itu mulai membuka konser kecilnya dengan menyapa para penumpang. Sedang perempuan tadi hanya sesekali membenarkan posisi berdirinnya agar lebih nyaman dan tidak terjatuh bila sewaktu-waktu bis damri berhenti mendadak.

 Gitar kecil yang ditangan sang lelaki yang kemungkinan adalah suaminya, mulai mengaluarkan bunyi yang merdu. Perempuan yang diduga istrinya mulai membuka mulutnya, terdengar bunyi lagu yang merdu, sebuah lagu dangdut dari Elvi Sukaesih mulai ia dendangkan, merdu, tulus, haru, penuh penghangayatan. Matanya yang tidak melihat tidak mengganggu pemandangan semua orang yang penasaran ingin menatap para artis jalanan ini. Ya,…satu lagu selasai didendangakan.
Saya sebetulnya berharap lagu kedua dia dendangkan, namun sayang, mereka mengakhiri konser yang mengharukan itu, ya…konser yang mengarukan, dua orang buta…tidak menggantungkan hidup mereka dengan hanya mengemis, tapi mereka berkarya. Sebuah kantong disodorkan sang lelaki sebagai tanda berakhirnya  konser haru itu, tak seberapa tarif yang mereka harapkan.

Tercengang, tidak hanya saya yang kagum, haru, terhadap kedua “artis” tersebut. Terbukti, hampir semua penumpang memasukan koin dan lembaran kertas kedalam kantong plastik yang disodorkan “artis” buta tersebut. Mereka pun berlalu meninggalkan jalanan, damri yang saya tumpangi masih berdiam, karena lampu merah masih menyala, mata saya masih mengikuti perjalanan dua orang yang saling berpegangan tangan dibantu dengan sebatang tongkat alumunium di tangan kanan sang lelaki. Mereka hendak berjalan menuju tepi, tepatnya trotoar dan depan pertokoan yang berjajar tepat dijalan otista.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Allah swt Maha Adil, sempurna segala ciptaanNya, tiada yang sia-sia segala yang Dia Ciptakan. Dua orang buta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah swt cukupi rezekinya, kebahagiaannya, dll. Thanks to ALLOH for all His Blessing.***

You are What You Do

Walau hari ahad ini gak jadi mengadakan acara public speaking dan talkshow seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Ternyata Alloh memberikan acara lain dan hiburan bagi saya. Memang sangat sedih, saat sesuatu yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Tapi tak apalah, Dia Maha Tahu segala yang terbaik bagiku.

Pagi itu, tepat pukul 06.00 saya pergi untuk olah raga bareng MEC, dijalan, melewati kampus UPI teman-teman saling membicarakan kesibukannya masing-masing. Saya hanya diam jadi pendengar setia, karena memang gak nyambung, yang meraka bicarakan bukan soal MEC atau rencana olah raga pagi itu. Setelah lama menyimak, akhirnya saya ikut bertanya dan meminta informasi “bagaimana kalau ingin ikut mengajar disana?” Tanyaku iseng menyesesuaikan obrolan mereka. Ya..seputar tes microteaching lah, interview lah, de el el. Akhirnya teman saya meminta data saya dan mengsms temannya sebagai HRD di tempat tersebut.

Olah raga siap dimulai. Memilih tempat yang tepat bukan perkara mudah di Pondok Hijau (PH), selain banyak orang, juga becek setelah kemarin diguyur hujan lebat. Ya, walau akhirnya kami menemukan tempat yang berumput dan agak panas. Pemanasan dimulai, dan mulai olahraga inti yang sudah kami rencanakan, boy boyan.... seru... tertawa lepas diantara semak dan hamparan rumput hijau di PH. Benar-benar sesuatu yang saya tunggu-tunggu selama ini. keringat membasahi wajah dan tubuh saya. Perut serasa dikocok, setiap langkah dan lari saya iringi dengan tertawa. Indah...bebas...ringan...lepasss…saya sangat menikmati...

Boy boyan, permainan yang sudah beberapa tahun saya tinggalkan, begitu ceria saya saat itu. Memutar kembali ingatan pada masa kecil saya yang memang dihabiskan disawah, ladang, lapangan buatan, dihalaman depan dan belakang rumah dan disekitar pojok rumah. Banyak sekali permainan yang sering saya lakukan dulu, bebentengan, ucing-ucingan, ucing sumput, boy-boyan, kasti, hong-hoongan, ucing bacak, maen BP (putri-putrian), imahan batok, sasaungan, maen karet, de el el. Pokoknya banyak banget.... Mungkin,  saat ini  sudah ditinggalkan anak-anak seusia saya saat itu.

Ya... saatnya saya dan teman teman harus pulang, rencana makan pun kami susun, siap menyantap bubur ayam setelah ini. semuanya berjalan berpasangan atau berdua-dua,.. teman saya mendekat dan berbisik, “teh ngajar di … sebut saja lembaga A gak?” Belum kata saya, mau sih tapi ntar mungkin, emang kanap teh? Ini teh, ternyata ditempat yang tadi itu hanya menerima mahasiswa ITB dan UPI aja, ujarnya. Memang terdengar seperti ada yang menusuk dihati, saya langsung terpikir, bagaimana kualitas diri dan tempat belajar saya saat ini. Sakit...sebel dengan universitas saya, mengapa seolah tidak punya bargaining. Wah, konyol jika saya menyerah. saya harus belajar, belajar, dan belajar. Semuanya tergantung saya. Aku pasti bisa. Dimanapun kamu belajar, itu bukan hal yang muthlak dapat membentuk kamu sesuai apa yang kamu inginkan.... NEVER GIVE UP!!!!!! Itulah mantra pembakar semangat saya kala itu.

Pernyataan teman saya membuat saya semakin semangat, saya harus terus belajar, banyak bergaul, banyak bertanya, banyak membaca. Saya semakin percaya diri, bahwa saya bisa melakukan yang lebih. Saya pasti bisaaaa. Ya, sebelum pulang tak lengkap bila gak ada dokumentasi perjalanan, untungnya, teman yang satu membawa kamera digital... wah, seru jepret sana jepret sini, ganti pose, ganti spot. Saya lupa dengan kejadian yang sudah terjadi, seru, senang, senyum, dan menikmati semua rangkaian pemotretan bak model aja.

Belum kenyang sebenarnya dipotret, tapi perut udah lapar, ya... kamipun meninggalkan spot pemotretan, dan menuju sebuah kantin. Wah, lengkap menunya. Kantin yang baru saya kunjungi didaerah Cilimus. Itu juga rekomendasi teman, cukup untuk mengganjal perut satu porsi bubur ayam ditambah sambal cabai yang yahuuut, pedasss pisannnn. Tapi enak lah dan Cuma tiga ribu lima ratus saja. Sudah kenyang warkop itu kami tinggalkan, karena perjalanan masih lumayan, melewati gymnasium dan sudut-sudut gedung Upi dan tibalah di gang darmawinata. Sebagian temanku, ada yang langsung pulang dan ada yang pergi ke pasar. Saya memilih untuk segera pulang. Pengen segera rasanya menumpahkan semua isi hati dan kepala kepada sahabat setiaku (laptop).

Gak butuh waktu lama untuk cepet datang ke kosan warna oren, sebuah rumah yang hampir empat bulan saya dan teman tempatin. Wah, ingin rasanya segera membuka laptop, dan jari-jariku mulai bergerak memijat satu persatu huruf yang ada dalam keyboard. Tapi sayang, dirumah tidak ada orang, memang sebelumnya ku sempatkan menyapa anak pemilik rumah yang tinggal dilantai bawah, mereka akan pergi entah kemana. Kudorong pintu, tapi masih tidak terbuka, saya teriak kencang, “teteh....teteh... ada orang gak?  Gak bawa kunci nih," berusaha untuk melihat kamar saya dari jendela tidak ada orang disana. Juga di ruang tamu saat ku lihat dari jendela tetap tak tanda-tanda ada orang. Jurus ampuh, saya mengirim sms semua penghuni, lalu ada balasan, saya lagi di Dago, dan yang satu saya lagi di UPI pulang setelah duhur dan tidak bawa kunci. Bingung, kesal, gondok, greget, kenapa saya tidak terpikir untuk membawa kunci... gak ada manfaatnya memang berandai-andai, jika semuanya sudah terjadi.

Pintu dapur sama dikunci, dan kuncinya tergantung dipaku yang menancap di dinding. Wah gimana nih, udah badan bau keringat, ingin segera masuk pokonya. untung jendela dapur tidak terkunci juga. Sreeet, tiba-tiba mata memandang sapu, sapu? Gimana ya, saya harus bisa ambil kunci dapur dengan sapu. Hanya Alloh yang dapat menolong saya. Saya sangat yakin. Gak tahu bagaimana nasib saya, seandainya kunci itu tidak mau nyangkut diatas sapu, atau misalnya kuncinya jatuh, entahla, paling saya gigit jari, kesal, gondok, greget... lagi mungkin.

Syukur Al hamdulillah, si kunci jatuh tepat diatas sapu, perlahan saya tarik sapu, dengan sangat hati-hati, dan akhirnya tangan kiri saya langsung meraih kunci tersebut. Serius, kunci itu bak sekeping emas bagi saya saat itu, ia sangat berharga. Wah Alloh is The Greatest, I like Him, i believe in Him so much. Dan pasti bila ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Rubah cara berpikir kita, be positive thinking! U will find the best way. Dan semoga meskipun saya bukan lulusan ITB, UPI, atau lainnya, dapat bersaing dan bermanfaat di masyarakat. Saya yakin kesuksesan sangat bergantung pada bagaimana saya… bukan lembaga.***

*Semoga menjadi sekeping inspirasi dan motivasi. Terimakasih buat semua teman-teman yang sudah menjadi jalan pencerah. Mohon doakan, semoga penulis bisa membuktikan. insya Allah, Alloh akan Menunjukkan jalanNYA. Amin...


Orange Apartement, 24 Oktober 2010
Pukul 10.12 pm