Diluar masih terdengar suara air jatuh di atas genting, dedaunan, dan sesekali angin menyapa lembut kulit kami. Hanya di malam hari kau bisa bercerita lagi tentangmu. Kali ini makan malam kami di rung TV, kau memulai ceritamu, “meskipun di MTs dulu aku harus sambil berjualan, tapi semua itu tidak membuat nilai-nilaiku buruk. Setiap kenaikan kelas aku dinyatakan sebagai bintang kelas. Sempat terpikir untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena dorongan dan semangat guruku, beliau mengantarku kepada seorang pemilik kobong di daerah malingping. Beliau menyerahkan aku, kepada seorang kiayi yang sama sekali asing bagiku. Aku dititipkan di sana. Aku pikir, aku hanya akan dipesantrenkan. Ternyata aku bisa sekolah ke Madrasah Aliyah (MA) dan tinggal di kobong milik Pak kiyai yang baru hanya ku ketahui namanya itu.
Tentu, semuanya tidak gratis. Untuk tinggal di kobong ada bayaran yang harus aku lunasi. Bukan dengan rupiah, karena benda yang satu itu hanya sedikit aku miliki. Untuk memulai berdagang kembali, aku harus mencari pemilik toko kelontongan yang baru. Karena pemilik toko kelontongan yang dulu berada di Cisiih. Jarak antara Cisiih dan Malingping cukup jauh. Jika aku mengambil barang dari sana cukup berat dan sulit. Namun, ternyata semuanya harus berubah. Tak pernah terbayang sebelumnya, Pak kiayi meminta aku agar mengurus sawah miliknya, kemudian hasilnya dibagi dua. Begitu pintanya. Dengan semangat, berbekal pengalaman sewaktu di SD dulu, tidak susah bagiku untuk sekedar menggarap beberapa petak sawah. Setiap pagi sebelum pergi ke MA, aku selalu pergi ke sawah. Terkadang harus mencangkul, tapi jika sawah sudah ditanami padi, aku hanya mengontrol airnya saja. Meskipun sudah diberi sawah untuk digarap. Semua itu tidak mencukupi untuk membiayaiku, adikku di MTs, dan ibuku di rumah. Aku ingin warung kecil ibu tetap berjalan.
Awal-awal menggarap sawah Pak kiayi, aku sering terlambat masuk kelas. Saat sawah harus segera di tanami padi kembali. Aku harus mencangkul setiap pagi. Setiap selesai sholat subuh, aku pergi ke sawah lengkap dengan cangkul, parang, dan bekal seadanya. Bersyukur, dengan kesepakatan yang baik, guruku memberikan hukuman yang terbaik untukku. Setiap terlambat, guru menyuruhku agar menghafalkan beberapa kosakata bahasa inggris. Positifnya, semakin sering aku terlambat, maka semakin banyak pula kosa kata yang aku hafal. Memang, guruku memberi hukuman karena ia ingin aku maju. Beliau tahu, alasan keterlambatanku, yang bukan karena nyenyak tertidur di atas kasur atau karena kemalasan yang dimanjakan.
Setelah keluar sekolah, aku pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur. Selain untuk berbelanja, juga mencari toko yang memungkinkan untuk kerjasama lagi. Pikirku. Ya…aku harus berjualan lagi seperti dulu. Di pasar aku mencari-cari toko kelontongan. Saat melihat toko kelontongan aku langsung masuk dan mencari pemiliknya. Tidak ada modal yang aku miliki, sama seperti dulu. Aku hanya akan bermodal dengan kejujuran. Tapi, untuk langsung berdiplomasi masalah konsinyasi nampaknya cukup sulit kalau hanya dengan modal kejujuran. Dia belum mengenalku, kalau begitu, akan ku tawarkan saja dulu diriku untuk jadi tukang pikul atau pelayan di toko itu. Benar, ide yang bagus, agar dia mengenalku. Aku akan menjadi kuli pikul di tokonya atau sekedar menjadi pelayan. Tak perlu menunggu waktu lama, aku langsung diterima jadi tukang pikul dan pelayan di sana. Kini ada pekerjaan baru bagiku setiap pulang dari sekolah hingga waktu magrib tiba. Hari itu juga, aku langsung bekerja, memikul karung-karung yang berisi gula pasir, terigu, dan sagu dari truk ke toko. Pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan otot. Beruntung, badanku tumbuh dengan sempurna. Meski tidak terlalu besar, tapi badanku kekar.
Seperti biasa kegiatanku di kobong sama seperti sewaktu di MTs dulu. Aku meneruskan mengaji al Qur’an dan kitab kuning. Tapi di sini ada pelajaran tambahan, aku diajarkan bahasa arab. Karena ternyata kiayiku lulusan sebuah universitas di Madinah. Meski siangnya harus sekolah dan bekerja, semuanya tidak memudarkan semangatku. Setiap hari libur, aku sempatkan pulang menjenguk ibu dan kedua adikku. Alhamdulillah, tabungan harianku dari upah pikul bisa untuk belanja kelontongan untuk mengisi warung kecilku di desa. Adikku yang baru masuk MTs mengulang perjuangan sepertiku. Jika aku harus berjualan agar mendapatkan uang. Berbeda dengan adikku, dia menjadi pembantu rumah tangga. Sebelum sekolah, ia sempatkan untuk bisa membantu cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah di tetangga kobongnya. Sepulang dari sekolah dia membantu memasak. Tak heran, untuk biaya hidup ia cukup dari hasil kerjanya sendiri. Terkadang pemilik rumah memberikan makanan untuknya. Alhamdulillah, tidak membutuhkan biaya yang banyak. Bahkan, untuk biaya SPP pun ia bayar sendiri dari tabungannya hasil kuli jadi pembantu rumah tangga.
Musim panen telah tiba, semangat dan ceria aku menyambutnya. Padi-padi yang telah ditanam sekitar empat bulan lalu, yang dibantu teman-temanku di kobong. Kini sudah berwarna kuning dan berisi, hingga batang padi-padi itu merunduk kebawah, tak kuat menahan beban biji yang berat. Aku merasa sangat bahagia. Pulang minggu depan nanti aku akan membawakan beras untuk keluargaku. Benar saja, hasil panen pertamaku lebih banyak dari biasanya. Cerita Pak Kiayi padaku. Bahkan kali ini dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan senyum ramah dan suara bangganya. Pak Kiayi merasa sangat senang dengan usahaku. Hasil panen sebanyak dua kwintal setengah membayar semua lelah dan payahku. Dengan segala kebaikannya, Pak Kiayi hanya mengambil satu kwintal saja, yang satu kwintal setengah lagi untukku katanya. Setengah kwintal pemberian Pak Kiayi, aku berikan kepada teman-temanku di kobong. Usai panen semua senang, sungguh rezeki itu sudah Allah tetapkan. Hanya seberapa usaha kita untuk menjemputnya.” Paparmu panjang lebar.
Suara jangrik di luar terdengar bak nyanyian alam yang diperdengarkan Sang Pencipta. Sunyi, senyap, hitam-legam, malam itu menyelimuti kampung kecil–Cimandiri. Tak ada lagi air yang jatuh. Begitu juga angin, ia tak menyapa kulit kami yang sedang khusyuk tenggelam dalam nostalgia ayah tercinta. Acara TV sudah berganti, entah yang keberapa kali. Keberadaan TV hanya tambahan teman saja, karena kami sebenarnya tidak sedang menontonnya, suaranya pun aku kecilkan, karena aku lebih asyik mendengar suara ayah. Suara yang masih bertenaga, meski sisa perjuangan. Suara yang memberikan ruh bagiku kala didera malas dan manja. Suara yang paling merdu bagi telinga yang masih terbuka.***
Oh, ayah
Ku tahu kau lelah
Tapi kau tak mau pasrah
Kau ikhlas pada takdir
Yang hadir menyingkap tabir
Bagi yang mau berpikir
Bandung-Oren House, May 2011
17.45 WIB